Hujan Picu Potensi Banjir Lahar Semeru, Penambang Pasir dan Warga Diimbau Segera Menjauh dari Sungai

 

Foto Rekaman Seismograf dari Pos Pengamatan GunungApi Semeru Amplitudo Maksimum 65 mm. (RS)

LUMAJANG – Aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih berada pada Status Level III (Siaga) per 2 November 2026. Hujan yang mengguyur kawasan Gunung Semeru sejak Minggu (1/11/2026) malam meningkatkan potensi terjadinya banjir lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung tersebut.

Berdasarkan laporan Badan Geologi, hujan terpantau terjadi sejak pukul 23.40 WIB hingga laporan disampaikan. Sementara itu, hasil pemantauan pada periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB merekam getaran banjir selama enam jam dengan amplitudo maksimum mencapai 65 mm.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena hujan berpotensi mengangkut endapan material vulkanik di lereng Gunung Semeru dan mengalirkannya menjadi banjir lahar melalui sungai-sungai yang berhulu di kawasan puncak.

Beberapa aliran sungai yang perlu diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungainya.

Potensi banjir lahar tersebut dapat membahayakan masyarakat yang beraktivitas di sekitar aliran sungai, terutama penambang pasir, pengemudi kendaraan pengangkut material, serta warga yang berada di kawasan alur dan bantaran sungai.

Penambang Pasir Diminta Hentikan Aktivitas

Menyikapi kondisi tersebut, Badan Geologi mengimbau para penambang pasir dan masyarakat yang beraktivitas di sepanjang aliran sungai berpotensi dilalui lahar agar segera menghentikan seluruh kegiatan.

Masyarakat diminta menjauh dari alur sungai maupun bantaran sungai dan segera menuju tempat yang lebih aman. Imbauan ini penting untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya aliran lahar secara tiba-tiba akibat meningkatnya curah hujan di kawasan hulu.

Selain itu, masyarakat diminta mematuhi zona larangan aktivitas yang telah ditetapkan, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru.

Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas guguran dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

Status Semeru Masih Siaga

Hingga 2 November 2026, Gunung Semeru masih berstatus Level III (Siaga). Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta terus meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi di wilayah puncak dan lereng gunung.

Badan Geologi mengingatkan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Aktivitas penambangan pasir maupun kegiatan lainnya di kawasan yang berpotensi dilalui banjir lahar sebaiknya tak dilakukan selama kondisi masih membahayakan.

Informasi terbaru mengenai aktivitas vulkanik dan rekomendasi keselamatan Gunung Semeru dapat dipantau melalui laman resmi MAGMA Indonesia di https://magma.esdm.go.id serta Pos Pengamatan Gunungapi Semeru.

Masyarakat diimbau tak mengabaikan peringatan petugas dan selalu mengikuti perkembangan informasi resmi guna menghindari risiko bencana susulan. (RS)

LihatTutupKomentar